/ Aug 28, 2025
Trending
Dalam dunia psikologi attachment (pola keterikatan), ada dua tipe yang sering kali bertolak belakang tetapi justru saling tertarik: avoidant attachment (menghindar) dan anxious attachment (cemas). Hubungan antara dua tipe ini bisa terasa seperti tarikan dan dorongan yang tak berkesudahan—satu pihak ingin lebih dekat, sementara yang lain terus menjauh.
Pertanyaannya, apakah hubungan antara seorang avoidant dan anxious selalu berakhir toxic? Atau adakah cara agar hubungan ini bisa berjalan dengan sehat?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami karakteristik masing-masing tipe keterikatan ini:
Orang dengan avoidant attachment cenderung merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional. Mereka lebih suka menjaga jarak dan sulit terbuka dalam hubungan. Beberapa ciri khas mereka:
Sebaliknya, orang dengan anxious attachment justru sangat mendambakan kedekatan dan validasi dari pasangan. Mereka cenderung:
Dengan karakter yang berlawanan ini, hubungan antara avoidant dan anxious sering kali seperti permainan tarik-ulur yang melelahkan.
Meski tampaknya tidak cocok, avoidant dan anxious justru sering tertarik satu sama lain. Mengapa?
Jawabannya: tidak selalu, tetapi sangat mungkin menjadi toxic jika tidak ada kesadaran dan usaha dari kedua belah pihak.
Ketika anxious terlalu menuntut perhatian dan avoidant semakin menarik diri, hubungan bisa berubah menjadi siklus yang menyakitkan:
Jika pola ini terus terjadi, hubungan bisa terasa melelahkan dan penuh konflik emosional, bahkan berubah menjadi toxic.
Meski menantang, hubungan antara avoidant dan anxious tetap bisa berhasil jika ada pemahaman dan usaha dari kedua pihak. Berikut beberapa strategi yang bisa membantu:
Kedua pihak harus menyadari pola attachment masing-masing. Anxious harus belajar untuk mengelola kecemasan dan tidak terlalu bergantung pada pasangan untuk validasi. Sementara itu, avoidant perlu belajar untuk lebih terbuka dan tidak langsung menarik diri saat merasa terancam.
Anxious tidak bisa mengharapkan avoidant tiba-tiba menjadi orang yang sangat ekspresif dalam hubungan, dan avoidant juga harus menerima bahwa anxious memang membutuhkan lebih banyak kepastian dan kehangatan.
Avoidant perlu memahami bahwa kedekatan tidak selalu berarti kehilangan kebebasan, sedangkan anxious harus belajar bahwa memberikan ruang bagi pasangan bukan berarti mereka tidak peduli.
Jika hubungan terasa terlalu sulit atau terus-menerus mengalami pola yang sama, terapi pasangan atau konseling bisa menjadi solusi untuk memahami pola attachment dengan lebih baik.
Hubungan antara seorang avoidant dan anxious attachment tidak harus selalu berakhir toxic, tetapi bisa menjadi toxic jika kedua pihak tidak sadar akan pola mereka dan tidak berusaha untuk menyesuaikan diri.
Kuncinya adalah komunikasi yang sehat, kesadaran diri, serta usaha untuk bertemu di titik tengah. Jika masing-masing individu mau bekerja sama dan memahami kebutuhan pasangan, hubungan ini masih bisa berjalan dengan baik dan bahkan berkembang menjadi lebih sehat.
Namun, jika hubungan terus-menerus terasa melelahkan dan menyakitkan tanpa adanya perubahan, penting untuk bertanya: Apakah hubungan ini benar-benar layak untuk diperjuangkan?
Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua pihak bisa tumbuh bersama, bukan saling menyakiti.
Dalam dunia psikologi attachment (pola keterikatan), ada dua tipe yang sering kali bertolak belakang tetapi justru saling tertarik: avoidant attachment (menghindar) dan anxious attachment (cemas). Hubungan antara dua tipe ini bisa terasa seperti tarikan dan dorongan yang tak berkesudahan—satu pihak ingin lebih dekat, sementara yang lain terus menjauh.
Pertanyaannya, apakah hubungan antara seorang avoidant dan anxious selalu berakhir toxic? Atau adakah cara agar hubungan ini bisa berjalan dengan sehat?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami karakteristik masing-masing tipe keterikatan ini:
Orang dengan avoidant attachment cenderung merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional. Mereka lebih suka menjaga jarak dan sulit terbuka dalam hubungan. Beberapa ciri khas mereka:
Sebaliknya, orang dengan anxious attachment justru sangat mendambakan kedekatan dan validasi dari pasangan. Mereka cenderung:
Dengan karakter yang berlawanan ini, hubungan antara avoidant dan anxious sering kali seperti permainan tarik-ulur yang melelahkan.
Meski tampaknya tidak cocok, avoidant dan anxious justru sering tertarik satu sama lain. Mengapa?
Jawabannya: tidak selalu, tetapi sangat mungkin menjadi toxic jika tidak ada kesadaran dan usaha dari kedua belah pihak.
Ketika anxious terlalu menuntut perhatian dan avoidant semakin menarik diri, hubungan bisa berubah menjadi siklus yang menyakitkan:
Jika pola ini terus terjadi, hubungan bisa terasa melelahkan dan penuh konflik emosional, bahkan berubah menjadi toxic.
Meski menantang, hubungan antara avoidant dan anxious tetap bisa berhasil jika ada pemahaman dan usaha dari kedua pihak. Berikut beberapa strategi yang bisa membantu:
Kedua pihak harus menyadari pola attachment masing-masing. Anxious harus belajar untuk mengelola kecemasan dan tidak terlalu bergantung pada pasangan untuk validasi. Sementara itu, avoidant perlu belajar untuk lebih terbuka dan tidak langsung menarik diri saat merasa terancam.
Anxious tidak bisa mengharapkan avoidant tiba-tiba menjadi orang yang sangat ekspresif dalam hubungan, dan avoidant juga harus menerima bahwa anxious memang membutuhkan lebih banyak kepastian dan kehangatan.
Avoidant perlu memahami bahwa kedekatan tidak selalu berarti kehilangan kebebasan, sedangkan anxious harus belajar bahwa memberikan ruang bagi pasangan bukan berarti mereka tidak peduli.
Jika hubungan terasa terlalu sulit atau terus-menerus mengalami pola yang sama, terapi pasangan atau konseling bisa menjadi solusi untuk memahami pola attachment dengan lebih baik.
Hubungan antara seorang avoidant dan anxious attachment tidak harus selalu berakhir toxic, tetapi bisa menjadi toxic jika kedua pihak tidak sadar akan pola mereka dan tidak berusaha untuk menyesuaikan diri.
Kuncinya adalah komunikasi yang sehat, kesadaran diri, serta usaha untuk bertemu di titik tengah. Jika masing-masing individu mau bekerja sama dan memahami kebutuhan pasangan, hubungan ini masih bisa berjalan dengan baik dan bahkan berkembang menjadi lebih sehat.
Namun, jika hubungan terus-menerus terasa melelahkan dan menyakitkan tanpa adanya perubahan, penting untuk bertanya: Apakah hubungan ini benar-benar layak untuk diperjuangkan?
Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat adalah hubungan di mana kedua pihak bisa tumbuh bersama, bukan saling menyakiti.
It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy.
It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy.
The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making
The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution of letters, as opposed to using ‘Content here, content here’, making it look like readable English. Many desktop publishing packages and web page editors now use Lorem Ipsum as their default model text, and a search for ‘lorem ipsum’ will uncover many web sites still in their infancy.
It is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using Lorem Ipsum is that it has a more-or-less normal distribution
Copyright BlazeThemes. 2023